PENDEKATAN TEORI ANTROPOLOGI FISIK DAN AGAMA DALAM MENELITI KEBENARAN TEORI EVOLUSI

PENDEKATAN TEORI ANTROPOLOGI FISIK DAN AGAMA DALAM MENELITI KEBENARAN TEORI EVOLUSI


I. Pendahuluan

Dipandang dari sudut biologi manusia hanya merupakan suatu macam makhluk diantara lebih dari sejuta macam makhluk lain, yang pernah atau masih menduduki alam dunia ini. Pada pertengahan abad ke-19 para ahli biologi, dan yang terpenting diatara mereka C. Darwin, mengumumkan teori mereka tentang proses evolusi biologi. Menurut teori ini bentuk-bentuk hidup tertua di muka bumi ini, terdiri dari makhluk-makhluk satu sel yang sangat sederhana seperti misalnya protozoa. Dalam jangka wajtu beratus-ratus juta tahun lamanya timbul dan berkembang bentuk-bentuk hidup serupa makhluk-makhluk dengan organisasi yang makin lama makin kompleks, dan pada kala-kala terakhir ini telah berkembang atau berevolusi makhluk-makhluk seperti kera dan manusia.
Sebagaimana diketahui bahwa pencetus teori evolusi adalah J.B. De Lamarck (1774-1829 M), Charles Darwin (1809-1882 M), dan Alfres Russel Willaca (1823-1913 M) Ketiga orang ini dianggap sebagai pencetus teori Evolusi yang amat terkenal itu. Walaupun paham seperti itu telah ada jauh sebelum ketiga orang itu mengemukakanya, tetapi artikulasi teorinya secara jelas dan argumentative justru setelah ketiga orang itu memasarkannya ke hadapan public dunia.
Para Antropolog telah lama terpesona dengan sifat-sifat istimewa Homo Sapiens, seperti bahasa, ketrampilan teknologis yang tinggi, dan kemampuan membuat pertimbangan etis. Akan tetapi salah satu perubahan terpenting dalam antropologi selama beberapa tahun belakangan adalah pengakuan bahwa kendati sifat-sifat istimewa itu, hubungan kekerabatan kita dengan kera Afrika sebenarnya luar biasa dekat. Bagaimana pergeseran yang penting itu terjadi? Untuk jawabanya maka kita akan membahas bagaimana gagasan Charles Darwin tentang kodrat istimewa spesies manusia awal telah mempengaruhi para antropolog selama seabad lebih dan bagaimana riset baru telah menyingkap rapatnya kekerabatan evolusioner kita dengan kera afrika dan menuntut agar kita menerima pandangan yang sangat berbeda mengenai kedudukan kita di dalam alam .
Pada tahun 1859, dalam karyanya Origin of Species, Darwin dengan hati-hati mengelak dari memberlakukan implikasi evolusi manusia. Satu kalimat yang bernada hati-hati ditambahkan pada edisi-edisi lanjutan bukunya itu: “light will be thrown on the origin of man and his history.” (Akan tiba saatnya asal-usul manusia dan sejarahnya dijelaskan).ia menjabarkan kalimat pendek ini di dalam bukunya yang terbit kemudian pada tahun 1871, The Descent of Man. Dengan mengupas apa yang waktu itu masih merupakan pokok bahasan yang sensitive, Darwin benar-benar menegakkan dia tiang penyangga bangunan teoritis antropologi. Yang pertama berkaitan dengan di mana manusia pertama kali berevolusi (mula-mula hanya sedikit yang mempercayainya, tetapi ia ternyata benar) dan yang kedua mengenai cara dan bentuk evolusi tersebut. Cara evolusi manusia versi Darwin mendominasi ilmu antropologi sampai beberapa tahun yang silam, dan versinya ini ternyata keliru. Asal muasal spesies manusia menurut Darwin adalah Afrika. Alasanya sederhana :

“Di semua wilayah besar di dunia ini, mamalia yang masih hidup berkerabat dekat dengan spesies yang berevolusi di wilayah tersebut. Oleh sebab itu barangkali pada masa silam Afrika dihuni oleh kera yang sudah punah, yang berkerabat dekat dengan gorilla dan simpanse: dan karena kedua spesies ini sekarang merupakan kerabat paling dekat bagi manusia, agak lebih mungkin leluhur pertama kita hidup di benua Afrika daripada tempat lain”.

Harus kita ingat bahwa ketika Darwin menulis kalimat-kalimat ini belum ada fosil manusia purba yang ditemukan; kesimpulan Darwin melulu berdasarkan teori. Pada masa Darwin, satu-satunya fosil manusia yang diketahui hanyalah fosil Neanderthal dari Eropa, dan fosil tersebut mewakili tahap perkembangan yang relatif baru dalam perjalanan hidup manusia .
Para antropolog sangat tidak suka dengan pendapat Darwin ini, terutama karena Afrika tropis dianggap rendah dalam pandangan colonial: Benua Hitam tidak dinilai pantas menjadi tempat asal makhluk semulia Homo sapiens. Ketika lebih banyak fosil manusia mulai ditemukan di Eropa dan Asia pada pergantian abad, makin besar cemoohan ditujukan pada gagasan Afrika sebagai tempat asal manusia. Sikap ini berlaku selama beberapa dasawarsa. Pada tahu 1931, ketika ayah saya memberitahu para penasehat intelektualnya di Cambridge University bahwa ia berencana mencari asal usul manusia di Afrika Timur, ia betul-betul didesak agar sebaiknya memusatkan perhatian ke Asia. Keyakinan Louis Leakey sebagian berdasarkan argument Darwin, dan sebagian lagi, tidak pelak lagi, karena ia lahir dan dibesarkan di Kenya. Diabaikannya nasehat para sarjana Cambridge itu dan ia terus berusaha menjadikan Afrika Timur wilayah teramat penting di dalam sejarah permulaan evolusi kita. Sengitnya sentiment anti-Afrika di kalangan antropolog masa itu terasa kolot bagi kita, mengingat banyaknya fosil manusia purba yagn telah didapat di benua itu belakangan ini. Kejadian itu juga merupakan peringatan bahwa ilmuwan sering dipengaruhi emosi sebanyak dibimbing oleh akal.
Kesimpulan pokok Darwin yang kedua dalam The Descent of Man adalah bahwa cirri-ciri manusia yang penting bipedalisme, teknologi, dan otak yang besar berevolusi serempak. Ia menulis:

“jika memang menguntungkan bagi manusia punya tangan dan lengan yang bebas, dan berdiri tegak pada kakinya .maka saya tidak melihat alasan mengapa tidak menguntungkan juga bagi luluhur manusia menjadi semakin tegak atau bipedal. Tangan dan lengan tentu sulit jadi cukup sempurna untuk bisa membuat senjata, atau melempar batu dan tombak dengan jitu, selama terbiasa digunakan menopang seluruh berat tubuh … dan selama dipakai khusus untuk memanjat pohon”.

Di sini Darwin berargumen bahwa evolusi cara kita berjalan yang tak lazim itu tekait langsung dengan pembuatan senjata batu. Lebih jauh lagi ia kaitkan perubahan-perubahan evolusioner tersebut dengan asal-usul gigi taring pada manusia, yang jauh lebih kecil dibanding dengan gigi taring mirip belati pada kera. “Leluhuh manusia barangkali bergigi taring besar.” Demikian ia tulis dalam The Descent of Man;”tetapi senyampang mereka lambat laun terbiasa menggunakan batu, pentungan, atau senjata lain untuk berkelahi dengan musuh-musuh atau saingan, mereka tentu makin lama makin jarang menggunakan gigi dan rahang. Dalam hal ini, ukuran rahang dan gigi akan susut.”
Makhluk-makhluk bipedal bersenjata itu mengembangkan pergaulan social yang lebih intense, yang membutuhkan lebih banyak akal, begitu menurut Darwin. Dan semakin pandai leluhur kita, semakin canggih teknologi dan pergaulan social mereka. Yang pada gilirannya menuntut kecerdasan yang lebih tinggi lagi. Demikian seterusnya, karena evolusi suatu ciri memacu evolusi cirri lain. Hipotesa evolusi terkait (linked evolution) ini merupakan scenario yang sangat jelas mengenai asal-usul manusia, dan menjadi inti perkembagan ilmu antropologi.
Menurut skenario ini,spesies manusia pertama lebih daripada sekedar kera bipedal: ia sudah punya beberapa ciri Homo sapiens. Gambaran seperti itu begitu kuat dan begitu masuk akal sehingga para antropolog mampu menyusun hipotesa-hipotesa yang menarik sekitar gambaran itu untuk jangka waktu yang sangat lama. Tetapi scenario tersebut melampaui ilmu pengetahuan: jika perbedaan evolusioner antara manusia dan era terjadi dengan mendadak sekaligus purba, maka terdapat jarak yang sangat jauh antara kita dan alam selebihnya. Bagi mereka yang yakin bahwa Homo Sapiens merupakan makhluk istimewa, sudut pandang ini menyenangkan. Keyakinan seperti itu lazim di kalangan ilmuwan yang sezaman dengan Darwin. Ambil sebagai contoh, naturalis Inggrisabad ke-19 Alfred Russel Wallace yang juga menciptakan teori seleksi alam (teori of natural selection) secara terpisah dari Darwin menolak menerapkan teori-teori itu pada aspek-aspek kemanusiaan yang paling kita junjung. Wallace menganggap manusia terlalu cerdas, terlalu beradab, terlalu canggih sebagai produk seleksi alam semata. Pemburu-pengumpul primitif kiranya tidak bakal punya keperluan biologis akan kemampuan-kemampuan tersebut, begitu Wallace bernalar, oleh karena itu memampuan-kemampuan tadi tidak mungkin merupakan hasil seleksi alam. Ia merasa, tentulah campur tangan supernatural yang menjadikan manusia begitu istimewa. Kurangnya keyakinan Wallace pada kekuatan seleksi alam membuat Darwin sangat jengkel. Paleontolog Skotlandia, Robert Broom, yang karyanya sebagai peneliti perintis di Afrika Selatan pada tahun 1930-an dan 1940-an telah ikut meneguhkan manusia sebagai tempat lahir manusia., juga mengungkapkan pandangan yang sama kuatnya tentang keistimewaan manusia. Broom percaya bahwa Homo Sapiens adalah produk evolusi yang tertinggi dan alam selebihnya terbentuk demi kesenangannya. Seperti Wallace, Broom menganggap kekuatan supernatural bekerja dalam asal-usul spesies kita. .
II. Pembahasan

Pengertian dan Ruang Lingkup Antropologi

Istilah antropologi berasal dari bahasa Yunani, asal kata anthropos berarti manusia, dan logos berarti ilmu. Dengan demikian, secara harfiah antropologi berarti ilmu tentang manusia. Para ahli antropologi (antropolog) sering mengemukakan bahwa antropologi merupakan studi tentang umat manusia yang berusaha menyusun generalisasi yang bermamfaat tentang manusia dan perilakunya, dan untuk memperoleh pengertian ataupun pemahaman yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. Jadi antropolog merupakan ilmu yang berusaha mencapai pengertian atau pemahaman tentang manusia dengan mempelajari aneka warna bentuk fisik, masyarakat, dan kebudayaanya. Secara khusus, ilmu antropologi terbagi ke dalam 5 sub ilmu yang mempelajari :
1. masalah asal dan perkembangan manusia atau evolusinya secara biologis;
2. masalah terjadinya aneka ragam cirri fisik manusia
3. masalah terjadinya perkembangan dan persebaran aneka ragam kebudayaan manusia
4. masalah asal perkembangan dan persebaran aneka ragam bahasa yang diucapkan di seluruh dunia;
5. masalah mengenai asas-asas dari masyarakat dan kebudayaan manusia dari aneka ragam suku bangsa yang tersebar di seluruh dunia masa kini.
Berkaitan dengan pembagian kelima subdisiplin antropologi tersebut, koentjaraningrat membuat bagan pembagian dalam ilmu antropologi yang tersusun pada bagan berikut : Paleoantropologi
Antropologi Fisik
Antropologi Biologis
Antropologi Antropologi Prehistori

Antropologi Budaya Etnolinguistik Etnologi dalam arti khusus

Etnologi Antropologi social
Dari bagan di atas, secara makro antropologi dapat dibagi ke dalam dua bagian, antropologi fisik dan budaya.
1. Antropologi Fisik
Antropologi fisik dalam arti fisik, yaitu bagian dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya aneka warna makhluk manusia dipandang dari sudut cirri-ciri tubuhnya, dengan memakai sebagian bahan penelitiannya cirri-ciri tubuh baik yang lahir fenotifik seperti warna kulit, bentuk hidung, tinggi dan bentuk tubuh, maupun yang dalam (genotifik) seperti frekuensi golongan darah. Manusia dimuka bumi ini dapat digolongkan ke dalam beberapa golongan tertentu berdasarkan atas persamaan mengenai beberapa cirri tubuh. Kelompok manusia ini disebut ras .
Antropologi fisik ini juga mempelajari manusia sebagai organisme biologis yang melacak perkembangan manusia menurut evolusinya dan menyelidiki variasi biologinya dalam berbagai jenis (species). Keistimewaan apa pun dianggap melekat pada dirinya yang dimiliki manusia, mereka digolongkan dalam binatang menyusui, khususnya primate. Dengan demikian, para antropolog umumnya memiliki anggapan bahwa nenek moyang manusia itu pada dasarnya sama dengan primate lainnya, khususnya sejenis kera dan monyet. Melalui aktivis analis yang mendalam terhadap fosil-fosil dan pengamatan pada primata-primata yang pernah hidup, para ahli antropologi fisik berusaha melacak nenek moyang manusia untuk mengetahui bagaimana, kapan, dan mengapa kita menjadi makhluk seperti sekarang ini.
2. Antropologi Budaya.
Antropologi budaya memfokuskan perhatiannya pada kebudayaan manusia atau cara hidupnya dalam masyarakat. Menurut Haviland cabang antropologi budaya ini dibagi-bagi lagi menjadi 3 bagian, yakni arkeologi, antropologi linguistic dan etnologi. Untuk memahami perkerjaan para ahli antropologi budaya, kita harus tahu tentang hakekat kebudayaan, dan karakteristiknya, bahasa dan komunikasi menyangkut hakekat bahasa dan bahasa dalam kerangka kebudayaan, serta kebudayaan dan kepribadian.
Antropologi budaya juga merupakan studi tentang praktik-praktik social, bentuk-bentuk ekspresif, dan penggunaan bahasa, dimana makna diciptakan dan diuji sebelum digunakan oleh masyarakat manusia. Biasanya, istilah antropologi budaya dikaitkan dengan tradisi riset dan penulisan antropologi di Amerika. Pada awal abad ke-20, Franz Boas mengajukan tinjauan kritisnya terhadap asumsi-asumsi antropologi evolusioner serta implikasinya yang cenderung bersifat rasial. Dalam hal itu, Boas menyoroti keberpihakan pada komparasi dan generalisasi antropologi tradisional yang dinilainya kurang tepat, selanjutnya ia mengembangkan aliran baru yang sering disebut antropologi Boas. Dalam hal ini, Boas merumuskan konsep kebudayaan yang bersifat relative, plural dan holistic.

III. Teori Evolusi menurut Para Ilmuwan Muslim.
Lamarck seorang ahli botani kelahiran Prancis yang dijuluki sebagai “Bapak Evolusi” menyatakan bahwa kehidupan ini berkembang mulai dari tumbuh-tumbuhan menuju binatang, dan dari binatang menuju kepada manusia. Menurut pendapat ini,organisme tubuh yang hidup berubah karena digunakan, ditelantarkan, atau karena musibah yang menimpanya. Sebagai contoh, lamarck menyebut perubahan organisme zirafah. Zirafah mempunyai kaki panjang yang senang memakan daun-daun yang tinggi apabila daun-daun yang rendah sudah habis dimakan. Itulah yang menyebabkan leher dan kakinya panjang. Akibat dari kebiasaan yang terus menerus dilakukannya itu sifat organisme yang demikian itu berpindah-pindah secara turun temurun. Demikian pula halnya dengan kera. Dikatakan bahwa melalui kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dilakukannya, akhirnya berubahlah organismenya secara turun temurun dan menjadilah ia manusia .
Jauh sebelum Lamarck, Muhammad bin Syakir bin Abdurrahman Al-Kutubi Al-Daraini (w.764 = 1335 M), dalam ulasannya tentang kera, ia mengatakan bahwa, dikalangan para ahli yang membahas soal alam, kera dipandang mempunyai unsure campuran, yakni unsure manusia dan unsure hewan. Kera tersebut merupakan proses peningkatan tahap demi tahap dari hewan kepada manusia .
Ibnu Maskawaih, ulama yang hidup antara abad IV dan V H, atau sekitar abad XII M, menyatakan bahwa proses perubahan tahap demi tahap dari tumbuhan sampai hewan yang paling mirip dengan manusia, seperti kera dan hewan yang sejenis dengannya. Kecerdasanya telah mencapai derajat yang dapat diajar dan dilatih menirukan ulah manusia yang dilihatnya. Keadaan serupa ini merupakan batas akhir dari alam hewani. Maka apabila mendapat tambahan sedikit saja, dia akan keluar dari kehewanannya dan memasuki alam kemanusiaan. Misalnya, dapat berbicara, memperoleh akal dll .
Ibnu Khaldun, juga berbicara tentang proses perubahan tahap demi tahap, yakni mulai dari mineral sampai kepada kera, kemudian sampai kepada manusia. Dia berpendapat bahwa perbedaan pada manusia adalah akibat pengaruh daerah, tempat tinggal, dan keadaan penghidupan terhadap fisik dan mental .
Berangkat dari ketiga cendekiawan Islam diatas, dapatlah diketahui bahwa ternyata teori evolusi jauh sebelum Lamarck, Darwin, dan Willaca mengemukakannya, para cendekiawan Islam sudah membicarakanya. Jadi sejatinya teori Evolusi bukanlah sesuatu yang baru di dunia Islam.
IV. Teori Evolusi dalam Perpektif Al Quran.
Secara teori walaupun beberapa ilmuwan barat mendukung teori evolusi akan tetapi dalam hal ini penulis berpendapat bahwa apabila dilihat dari cirri-ciri fisik manusia zaman sekarang kita tidak akan menemukan perbedaan yang telalu jauh antara manusia yang satu dengan manusia yang lain selain perbedaan pada warna kulit, rambut, mata, tinggi badan dll. Sementara apabila dibandingkan dengan mahluk lain yaitu hewan. Manusia memiliki perbedaan-perbedaan yang cukup mencolok dengan bangsa hewan sehingga kemungkinan bahwa manusia dengan hewan dulunya berasal dari satu nenek moyang adalah bisa dianggap sangat mustahil dan kita pun juga tidak menemukan tentang kebenaran teori evolusi dalam Al Quran selain penyusutan ukuran tubuh manusia dan penyusutan usia yang terjadi pada manusia mulai dari zaman purba hingga sekarang.

Ciri Manusia Purba menurut Al Quran,
1. Memiliki umur yang Panjang.




“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim”.(Al Ankabuut : 14)

Dari uraian ayat diatas maka itu berarti bahwa apabila usia rata-rata manusia zaman sekarang 60 – 100 tahun maka usia manusia purba bisa dianggap 10 kali lebih banyak dibandingkan usia manusia zaman sekarang.

2. Memiliki Postur Tubuh yang Besar seukuran Raksasa (Buto Ijo).


Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum `Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah ni`mat-ni`mat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (QS. Al A’raf : 74)



Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin (QS. As Syu’ara : 149)

Bukti-bukti arkeologis yang masih tersisa pada zaman sekarang seperti pyramid di Mesir , Stonehenge di Inggris , membuktikan adanya dua kemungkinan bahwa bangunan tersebut dibangun oleh manusia pada zaman itu yang memiliki teknologi yang sangat maju atau bangunan tersebut dibangun oleh manusia yang memiliki ukuran tubuh yang sangat besar dan jauh lebih besar dibanding dengan manusia zaman sekarang mengingat bahwa bangunan tersebut membutuhkan jumlah batuan yang sangat banyak dan besar sementara batuan tersebut harus diambil dari tempat yang sangat jauh.

3. Memiliki Kecerdasan yang Tinggi dan Pernah Memiliki Peradaban yang Sangat Maju.

Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap dipandang mata. (QS. Maryam : 74)


4. Manusia yang hidup saat ini berasal dari nenek moyang tunggal yang merupakan manusia juga (adam dan hawa) dan bukan merupakan Evolusi dari Species Lain seperti yang dipercayai oleh Teori Evolusi Darwin.
Hasil penelitian dari seorang ahli paleoantropologi dari Sao Paulo Brasil, yang kini bekerja di Universitas Cambridge, dengan menggunakan analisis computer yang paling teliti sampai saat ini terhadap fosil-fosil tengkorak, mennyimpulkan bahwa sebagian besar data kronologis dan genetic mengindikasikan adanya sebuah asal usul tunggal dari seluruh manusia modern di Afrika .



“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujarat : 13).




Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?".(QS. Shaad : 75)

Anggapan dalam teori Evolusi Darwin yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera sangat bertentangan dengan teori Al Quran yang mengatakan bahwa manusia diciptakan langsung oleh Allah SWT tanpa melalui proses evolusi dari mahluk yang tidak berakal.
IV. Kesimpulan
Dari berbagai uraian diatas maka dapat di simpulkan bahwa
1. Belum adanya titik temu dalam teori evolusi antara pendekatan melalui teori antropologi dan agama sekalipun bukti-bukti arkeologis yang ditemukan semakin menguatkan kebenaran Al Quran bahwa Manusia bukan berasal dari Spesies lain.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”(QS Fushilat : 53)

2. Tidak semua peninggalan masa lalu yang merupakan sisa-sisa kehidupan yang pernah berlangsung jutaan tahun yang lalu bisa ditemukan dalam bentuk fosil karena fosil-fosil tersebut sebagian telah berubah menjadi minyak bumi (fosil hewan dan manusia purba) dan batu bara (fosil tumbuhan purba) dan bangunan-bangunannya peradaban pun telah hancur atau terkubur di dalam tanah akibat bencana alam atau perang antar manusia yang terjadi di masa lalu.




















DAFTAR PUSTAKA

Leakey, Richard, Asal-Usul Manusia, Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, Cet. II, April 2007

Supardan, Dadang, Pengantar Ilmu Sosial, Jakarta : Bumi Aksara, Cet. I, Januari 2008.

Olson, Steve, Mapping Human History, Jakarta : PT Serambi Ilmu Semesta, Cet. II, Juni 2006.

Fathoni, Abdurrahmat, Antropologi Sosial Budaya, Jakarta : PT Rineka Cipta, Cet. I, Januari 2006

Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta : PT Rineka Cipta, Cet. III, 1981

Shihab, Umar, Kontektualitas Al Quran, Jakarta : Penamadani, Cet. II, Juni 2004.
NOTA ORDER (SUFIJAYA SEMARANG)

TULIS NAMA BARANG YANG DIPESAN :

1. jumlah pesanan 2. Nama produk *
Contoh : 10 tuntunan sholat penerbit toha putra + 10 keistimewaan asmaulhusna di jaman modern penerbit sufijaya
Keterangan
contoh : tuntunan sholatnya yang kecil, yang harganya 4000 (jika tidak ada kosongi saja)

TULIS BIODATA LENGKAP PENGIRIMAN(untuk menentukan ongkos kirimnya)

Nama lengkap *
Alamat lengkap *
Nomer telpon / handphone *

REKENING REFUND (PENGEMBALIAN UANG) PELANGGAN

Dibutuhkan jika tiba2 terjadi setelah pelanggan transfer mendadak stok habis maka kami mengembalikan uang transfer sepenuhnya tanpa potongan. jika rekening refund menyusul lewat sms maka di kosongi saja

NAMA BANK

contoh : BRI KCP cab tlogosari semarang
Atas Nama :
Contoh : Tahif Mustabiq Sufi
Nomer rekening :
contoh : 1138-01-002149-50-1
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image: [Refresh Image] [What's This?]